link menu

Thursday, June 30, 2011

10 Orang Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga (Al mubasirin bil jannah) berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH ANNADHIRAH FI MANAQIBIL ASYARAH“ dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

Kisah singkat 10 Sahabat

1. Abu Bakar bin Abi Qahafah (As siddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki akhlaq yang mulia. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.
“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar.” (HR. Al Baihaqi)
Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21, Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pulalah penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai.

2. Umar Ibnul Khattab, ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah SAW dan masih satu kakek yakni Ka’ab bin Luai. Umar masuk Islam setelah bertemu dengan adiknya Fatimah daan suami adiknya Said bin Zaid pada tahun keenam kenabian dan sebelum Umar telah ada 39 orang lelaki dan 26 wanita yang masuk Islam. Di kaumnya Umar dikenal sebagai seorang yang pandai berdiskusi, berdialog, memecahkan permasalahan serta bertempramen kasar. Setelah Umar masuk Islam, da’wah kemudian dilakukan secara terang-terangan, begitupun di saat hijrah, Umar adalah segelintir orang yang berhijrah dengan terang-terangan. Ia sengaja berangkat pada siang hari dan melewati gerombolan Quraisy. Ketika melewati mereka, Umar berkata, ”Aku akan meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!” Mendengar perkataan Umar tak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar. Banyak pendapat Umar yang dibenarkan oleh Allah dengan menurunkan firmanNya seperti saat peristiwa kematian Abdullah bin Ubay (QS 9:84), ataupun saat penentuan perlakuan terhadap tawanan saat perang Badar, pendapat Umar dibenarkan Allah dengan turunnya ayat 67 surat Al Anfal.
Sebagai khalifah, Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan kesejahteraan ummatnya, sampai setiap malam ia berkeliling khawatir masih ada yang belum terpenuhi kebutuhannya, serta kekuasaan Islam pun semakin meluas keluar jazirah Arab.

3. Utsman bin Affan, sebuah Hadits yang menggambarkan pribadi Utsman : “Orang yang paling kasih sayang diantara ummatku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi) Utsman adalah seorang yang sangat dermawan, dalam sebuah persiapan pasukan pernah Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, Utsmanlah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinannya Utsman merintis penulisan Al Qur’an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

4. Sahabat berikutnya adalah Ali bin Abi Thalib, pemuda pertama yang masuk Islam, ia yang menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, Ali yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan putri kesayangannya Fatimah, Ali yang sangat sederhana kehidupannya.

5. Sahabat kelima yang dijamin oleh Rasulullah SAW masuk surga adalah Thalhah bin Ubaidillah yang pada Uhud terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah serta jari tangannya putus. Namun Thalhah yang berperawakan kekar serta sangat kuat inilah yang melindungi Rasulullah disaat saat genting, beliau memapah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah menaiki bukit Uhud yang berada di ujung medan pertempuran saat kaum musyrikin pergi meninggalkan medan peperangan karena mengira Rasulullah telah wafat. Saat itu Thalhah berkata kepada Rasulullah, ”Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah dan ibuku.” Nabi tersenyum seraya berkata, ”Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Sejak itu Beliau mendapat julukan Burung Elang hari Uhud. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ”Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa yang senang melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah.”

6. Azzubair bin Awwam, sahabat yang berikutnya, adalah sahabat karib dari Thalhah. Beliau muslim pada usia lima belas tahun dan hjrah pada usia delapan belas tahun, dengan siksaan yang ia terima dari pamannya sendiri. Kepahlawanan Azzubair ibnul Awwam pertama terlihat dalam Badar saat ia berhadapan dengan Ubaidah bin Said Ibnul Ash. Azzubair ibnul Awwam berhasil menombak kedua matanya sehingga akhirnya ia tersungkur tak bergerak lagi, hal ini membuat pasukan Quraisy ketakutan.
Rasulullah sangat mencintai Azzubair ibnul Awwam beliau pernah bersabda, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Azzubair ibnul Awwam adalah suami Asma binti Abu Bakar yang mengantarkan makanan pada Rasul saat beliau hijrah bersama ayahnya. Pada masa pemerintahan Umar, saat panglima perang menghadapi tentara Romawi di Mesir Amr bin Ash meminta bala bantuan pada Amirul Mu’minin, Umar mengirimkan empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan, dan ia menulis surat yang isinya, ”Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah anda siapa empat orang komandan itu? Mereka adalah Ubadah ibnu Assamit, Almiqdaad ibnul Aswad, Maslamah bin Mukhalid, dan Azzubair bin Awwam.” Demikianlah dengan izin Allah, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.

7. Adalah Abdurrahman bin Auf, yang disebutkan berikutnya, adalah seorang pedagang yang sukses, namun saat berhijrah ia meninggalkan semua harta yang telah ia usahakan sekian lama. Namun saat telah di Madinahpun beliau kembali menjadi seorang yang kaya raya, dan saat beliau meninggal, wasiat beliau adalah agar setiap peserta perang Badar yang masih hidup mendapat empat ratus dinar, sedang yang masih hidup saat itu sekitar seratus orang, termasuk Ali dan Utsman. Beliaupun berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada ummahatul muslimin, sehingga Aisyah berdoa: “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”

8. Sahabat yang disebutkan berikutnya adalah Saad bin Abi Waqqash, orang pertama yang terkena panah fisabilillah, seorang yang keislamannya sangat dikecam oleh ibunya, namun tetap tabah, dan kukuh pada keislamannya.

9. Said bin Zaid, adik ipar Umar ibnul khattab, adalah orang yang dididik oleh seorang ayah yang beroleh hidayah Islam tanpa melalui kitab atau nabi mereka seperti halnya Salman Al Farisi, dan Abu Dzar Al Ghifari. Banyak orang yang lemah berkumpul di rumah mereka untuk memperoleh ketenteraman dan keamanan, serta penghilang rasa lapar, karena Said adalah seorang sahabat yang dermawan dan murah tangan.

10. Nama terakhir yang meraih jaminan surga adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, yang akhirnya terpaksa membunuh ayahnya saat Badar, sehingga Allah menurunkan QS Al Mujadilah : 22. Begitupun dalam perang Uhud, Abu Ubaidahlah yang mencabut besi tajam yang menempel pada kedua rahang Rasulullah, dan dengan begitu beliau rela kehilangan giginya. Abu Ubaidah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai pemegang amanat ummat, seperti dalam sabda beliau : “Tiap-tiap ummat ada orang pemegang amanat, dan pemegang amanat ummat ini adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.”



Sumber: http://www.2lisan.com/tulisan/artikel/10-nama-nama-sahabat-yang-dijamin/

Tuesday, June 21, 2011

Mengenal Pengertian dari PHP

Ketika mempelajari pemrograman web, ada beberapa bahasa pemrograman yang harus kalian kuasai, misalnya, HTML, CSS, SQL, PHP, dan masih ada lagi yang lainnya. Dan disini kita telah membahas mengenai SQL dan HTML, sedangkan CSS dan PHP masih belum saya jelaskan. Maka, kali ini kita akan membahas mengenai PHP.

PHP adalah bahasa pemrograman yang digunakan secara luas untuk keperluan pembuatan dan pengembangan sebuah web dan bisa digunakan pada HTML. PHP merupakan singkatan dari Hypertext Preprocessor, bahasa ini sering disertakan dalam pembuatan dokumen HTML, selain itu sintaks PHP juga hanya akan diproses atau dieksekusi didalam server (server-side HTML-embedded scripting). Maksudnya, semua sintak dan perintah-perintah dalam dokumen HTML itu akan dijalankan didalam server, sehingga scriptnya tidak tampak disisi client.



PHP dirancang untuk dapat bekerjasama dengan database server dan dibuat sedemikian rupa sehingga pembuatan dokumen HTML yang dapat mengakses database begitu mudah. Tujuan dari penggunaan script PHP ini adalah membuat aplikasi berbasis web tapi prosesnya dijalankan di server.
Pada prinsipnya, server akan bekerja apabila ada permintaan dari client. Setelah permintaan dari client dikirim ke server, maka server akan melakukan beberapa proses, yaitu:


  1. Membaca permintaan dari client/browser
  2. Mencari halaman di server
  3. Mengeksekusi perintah yang diberikan PHP untuk melakukan perubah pada halaman
  4. Mengirim kembali perubahan kepada client
Sekian yang dapat saya jelaskan mengenai PHP. Semoga berguna.


Sumber: http://world-of-programmer.blogspot.com/2010/10/mengenal-pengertian-dari-php.html

Saturday, June 11, 2011

inikah balasan cintaku???


ini engkau merasa disayang olehnya,hingga semua orang dekatmu kau jauhi.Ayah ibu tidak lagi berarti. Apakah memang seperti itu?
Sungguh itu sangat menyakitkan. Justru dikala kamu dibuai oleh cinta maka  ingatlah kedua orang tuamu. Apakah mereka akan bahagia melihatmu kalut sepeti ini?
kuliah tidak lancar, duit selalu habis terbuang.duh kasihan. Tegakah engkau memlihat ayah yang bekerja mencari nafkah hanya untuk melihat anaknya lulus kuliah.Atau ibu yang setiap hari berdoa tanpa henti, berharap anak nya bisa sekolah lagi. Kini setelah ia bisa kuliah,  justru memilih pelukan lelaki yang membuatnya terlena. Cinta bukan seperti itu. Cinta bukanlah bahagia di atas penderitaan orang lain. kamu bahagia dengannya dalam balutan ikatan semu, tapi orang tua malah menderita  melihat kamu menyia-nyiakan hidupmu.
Engkau mungkin bahagia bersama dia. Tapi sampai kapan dia akan bersamamu. Sampai kapan dia berkorban untukmu. Apakah sampai kulitmu tak halus lagi, wajahmu mulai keriput, ataukah ketika kamu sudah tidak langsing kah. Orang tua bertahan mencintaimu, karena  kamu anaknya. Mereka yang mengasuhmu, menghadirkanmu kedunia ini dan membuatmu dewasa seperti saat ini. kini setelah kamu bisa berkehendak, menentukan sikap justru orang tua kamu sendirilah yang pertama  kali kamu bohongi, tentang,dan kamu tinggalkan.ini kah balasan yang baik itu.

di kutip dari buku burhan shadiq punya afika awaliyah katanya..makasih ya...^^

moga bermanfaat... ^^

Apa kata mereka??? dan apa jawabanya dalam Al-Qur'an


“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An Nisa’ 4 : 138-139)
Dalam ayat ini Allah swt memberitahukan ciri yang lain yaitu sikap wala yang di berikan kepada orang kafir. Wala berarti loyalitas, keberpihakan, kebanggaan bahkan kecintaan. Sesuatu hal apapun yang merugikan orang kafir, maka mereka juga merasa ikut dirugikan. Hal ini dikarenakan sikap loyalitas mereka yang tinggi terhadap orang-orang kafir. Wala dapat juga berarti mengambil menjadi panutan dan pemimpin. Orang-orang munafik sangat tidak senang jika dipimpin oleh seorang mukmin yang taat terhadap syariat Allah, mereka lebih berharap untuk menang dalam perjuangan membela kekafirannya.
Mereka mengatakan bahwa: " Sesungguhnya, masuk ke dalam majelis parlemen itu banyak kemaslahatannya." Bahkan, diantara mereka menganggap bahwasanya majelis parlemen itu sebenarnya adalah termasuk mashlah mursalah(kemaslahatan yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang di dalam syariat isam). Sebagai contoh, mereka menyebutkan, "(untuk) dakwah dan menyatakan kebenaran". Mereka pun menyebutkan, "(untuk) merubah sebagian kemungkaran dan memperingan sebagian tekanan terhadap dakwah dan para da'i(juru dakwah)". Diantaranya ada yang mereka menyebutkan"(agar) tidak membiarkan posisi2 tersebut dan majelis2 parlemmen diduduki oleh orang nasrani, atau orang2 komunis,atau orang2 yang semacam mereka".Bahkan diantara mereka ada yang berlebih-lebihan dan menyebutkan"(Untuk) kemaslahatan yang berupa menjalankan syariat Allah dan menegakan Din_Nya melalui majelis Parlemen..." Serta kemaslahatan2, angan2 dan hawa nafsu mereka yang lain. Semua yang mereka sebutkan di dalam masalah ini adalah seputar kemaslahatan.
Maka kami jawab -- Wabillahi taufiq--
sebelumnya kami bertanya kepada mereka "Siapakah yang berhak menentukan kemaslahatan untuk Din dan hamba-hambaNYa, dan siapakah yang mengetahui dengan sebenarnya? Allah yang maha lembut lagi maha mengetahui? ataukah kalian dengan segala istihsan-istihsan dan istihlah-istihlah kalian??"
Jika mereka menjawab:"Kami."
Maka, kami katakan ,"Jika demikian, bagi kalian Din kalian dan bagi kami Din kami, kami tidak beribadah kepada apa ang kalian ibadahi dan kalian tidaklah beribadah kepada apa yang kai ibadahi" karena Allah telah berfirman:
".... Tidaklah ada yang Kami lewatan sedikitpun di dalam Al-kitab"(QS.Al-An'am:38)
Ini di dalam din kita dan millah kita. Adapun di dlam din dan millah demokrasi maka tidak ada tempat bagi ayat2 yang muhkamat ini. Karena menurut mereka, manusia sendirilah yang menetapkan Syari'at untuk diri mereka. Makanya mereka mengatakan:"Ya, manusia telah dibiarkan begitu saja, dia bebas sebebas-bebasnya dalam memilih, menetapkan, dan meninggalkan syari'at dan din semau mereka dan bagi mereka tidak penting, apakah syari'at yang mereka buat itu sesuai dengan kitab Allah atau bertentangan dengannya. tetapi, yang dijadikan pegangan adlah jangan sampai bertentangan dengan undang-undang."
"Celaka kalian dan apa yang kalian ibadahi selain Allah. Apakakh kalian tidak berakal?"(QS.Al-anbiya:67)
Jika mereka menjawab:" Allah sajalah yang menentukan dan menetapkan kemaslahatan dengan sebaik-baiknya. karena dialah yang menciptaan seluruh makhluk dan Dia Maha mengetahui dengan kemaslahatan mereka."
Maka kami bertanya kepada mereka, "kemaslahatan apakah yang paling besar di jagat raya ini, yang telah Allah tetapkan di dalam kitab_Nya, karenanya pula diutus para rasul, diturunkan kitab2, disyari'atkan jihad dan istisyhad, dan karenanya ditegakkan daulah islamiyah(negara islam), Wahai para penyeru penegak khilafah???"
Jika mereka berkutat pada kemaslahatan parsial dan sekunder, dan berpaling dari prinsip dasar maka kami katakan kepada mereka,"janganlah kalian untuk mempelajari dasar2 din kalian. Belajarlah kalian tentang makna La ilaha illallah, yang tanpa merealisasikannya dan memahami maknanya, tidak akan diterima dakwah, jihad dan istisyhad!"
Jika mereka menjawab :"kemaslahatan yang paling besar di jagat raya ini adalah memurnikan taauhid untuk Allah dan menjauhi hal2 yang bertentangan dan membatalkannya yang berupa syirik dan tandid."
maka, kami katakan,"Lalu, apakah masuk akal, wahai wahai orang2 yang berakal?kalian hancurkan kemaslahatan yang besar, universal dan qath'i ini, kemudian malah kalian bersepakat dengan para thagut terhadap sebuah din yang bukan sin Allah(yaitu demokrasi), kalian menerima dan menghormati syari'at selain syari'at Allah(yaitu undang2), dan kalian mengikuti Rab-rab yang bermacam-macam, yang membuat syari'at sebagai tandingan bagi Allah yang maha esa lagi maha kuasa untuk memaksa?? "
Sehingga kalian menghancurkan kemasalahatan yang paling besaar di jagat raya ini, yaitu tauhid dan kufur terhadap thagut, untuk meraih mendapatkan kemaslahatan yang sekunder, parsial dan masih semu.
Pertimbangan apa, akal apa, syari'at apa, dan din apa yang bisa menerima hal ini selain din demokrasi???
Dan bagaimanma bisa, ada orang diantara kalian yang berani beranggapan bahwa majelis syirik tersebut merupakan Mashlahah mursalah. Sesungguhnya, yang dimaksud dengan mashlahah mursalah menurut orang-orang yang menggunaannya adalah sesuatu yang tidak dinyatakan,ditetapkan, atau ditolak oleh syari'at. Lalu paakah kalian menganggap bahwa syari'at tidak menolak kesyirikan dan kekafiran, juga segala din yang bertentangan dengan islam, serta segala millah yang bertentangan dengan millah tauhid...??
Kemudian, ketika kalian mendiskusikan kemaslahatan2 yang bersifat parsial tersebut sebagaimana orang berusaha mengharamkan Khamr, kalian akan mengandalkan apa dalam melakukan tuntutan untuk mengharamkan khamr, dengan apa pula kalian berdalil dan beralasan?Apakah kalian akan mengatajan:"Allah berfirman dan rasul bersabda....???"
Jika kalian mempunyai anggapan semacam ini maka kalian telah berdusta. Karena hal ini tidak ada nilainya di dalam di demokrasi dan di dalam syari'at undang2, kecuali yang telah dinyatakan, dmianggap, dan diseleksi di dalam undang2. Tidak diragukan lagi, kalian akan mengatakan:"Dinyatakan di dalam pasal kedua.... dan pasal ke-24 .... dan pasal ke-25... dan syari'at2 sesat yang lain."
lalu adakan kesyirikan, dan penyelewengan yang melebihi ini??? masihkah tersisa prinsip, millah dan tauhid bagi orang yang menempuh jalan seperti ini???
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. ” (QS. An Nisa’ 4 : 60)
Jawablah pertanyaan kami,"Mungkinkah memperjuangkan syari'at di dalam sarang berhala tersebut tanpa melalui jalan syirik ini..??"
Jawablah pertanyaan kami, wahai orang2 yang mengaku sebagai pejuang kemaslahatan dan memiliki kecerdasan!!!
Meskipun kalian menangisi seluruh hukum Allah, apakah kalian mau menegakannya dengan jalan seperti ini???
Tidakkan kalian memahami bahwa ini adalah jalan kemusyrikan dan jalan yang buntu. Karena jalan ini berhasil misalnya maka sekali-kali itu bukan hukum Allah, akan tetapi itu adalah hukum undang2, hukum rakyat, dan hukum mayoritas. hukum Allah itu sama sekali tidak terwujud, kecuali jika semuanya tunduk kepada firmanNya serta lapang dada untuk menerima SyariatNYA. Adapun jika masih tunduk kepada din demokrasi, kepada syari'at undang2, kepada hukum rakyat dan mayoritas maka itu adalah hukum thagut, meskipun ketika itu banyak yang telah sesuai dengan hukum Allah.
Karena Allah berfirman:
"...Sesungguhnya, hukum itu hanyalah milik Allah..."(QS. Yusuf:40)
Dan Allah tidak berfirman,"Sesungguhnya, hukum itu hanyalah milik rakyat"
Allah berfirman:
"Dan putuskanlah perkara mereka dengan apa yang diturunkan Allah..."(Al-maidah:49)
Dan Allah tidak berfirman,"Dan putuskanlah perkara mereka dengan apa yang tercantum di dalam undang2" bahakan ini adalah perkataan orang2 musyrik dari kalangan para penyembah demokrasi dan undang2 ciptaan manusia.
di manakah posisi kalian? Apakah kalian akan tetap di dalam kelalaian dan kesesatan kalian yang lama..?
Apakah kalian akan menanam kepala kalian di dalam pasir? Tidakkah kalian menyaksikan pengalaman2 orang2 seperti kalian yang berada di sekeliling kalian? Lihatlah Al-jazair, Kuwait, Mesir dan lain2..dll...Apakah kalian belum yakin juga bahwa ini merupakan permainan kafir, sendau gurau syirik yang menyeleweng dan jalan buntu??Apakah kalian belum juga membuktikan bahwa semua ini adalah mainan yang dipermainkan oleh tangan2 thagut, yang dia bisa membukanya kapan saja dia kehendaki, menutupnya kapan saja dia kehendaki. Bahwasannya pula tidak mungkin menetapkan sebuah peraturan, kecuali setelah mendapatkan pembenaran dan persetujuan thhagut.
lalu, kenapa kalian tetap berskukuh dengan kemusyrikan yang nyata ini dan dengan kehinaan yang jelas ini!?
Selain itu pun mereka pun gaduh, berteriak dan mengatakan:"bagaimana kita meninggalkan majelis ini untuk orang2 komunis atau orang2 nasrani, atau orang2 atheis yang lain..???"Sungguh celaka dan celaka,,,! binasa dan binasa,,,!!!
Allah berfirman:
"Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang pedih".QS.Ali Imran:176
Ketahuilah bahwasannya keikutsertaan ini tidak selesai di dunia saja, tetapi sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat An-Nisa, setelah mengingatkan majelis2 semacam ini, Allah memerintahkan untuk memisahkan diri dari para pesertanya dan agar tidak duduk bersama mereka. Jika tidak maka orang yang duduk bersama mereka sama seperti mereka.
Allah berfirman:
Dan telah diturunkan (ajaran) kepada kalian, bahwa apabila kalian mendengar ayat ayat Allah dpermainkan dan dan dingkari maka janganlah sekali kali kalian duduk bersama mereka (orang orang yang mempermainkan ayat ayat Allah dan mengingkarinya), sehingga mereka mengalihkan pembicaraan kepada pembicaraan yang lain. (Apabila) kalian tetap duduk duduk bersama mereka ketika mereka mempermainkan ayat ayat Allah) maka kalian sama dengan mereka. Sesungguhnya Allah mengumpulkan orang orang munafik dan orang kafir seluruhnya di dalam neraka Jahannam. (QS. An Nisa: 140)
Setelah ini semua, belumkah kalian yakin bahwa ini adalah benar2 kesyirikan dan bahwasannya ini adalah kekafiran yang nyata. Tidakkah kalian mengetahui bahwasanya din ini adlah din yang bukan din Allah..???Dan bahwasanya ini adalah millah yang lain dengan millah tauhid???Lalu, kenapa kita memperebutkannya?? Tinggalkan lah ia untuk mereka!Ya...tinggalkanlah dan jauhilah ia, tinggalkan ia untuk para penganutnya!Ikutilah Millah ibrahim yang lurus, dann tidaklah dia termasuk orang2 yang musyrik. Ucapkanlah kata2 yang dkiucapkan cicitnya, yaitu nabi Yusuf, meski dalam keadaan lemah dan tertindas di balik jeruji besi penjara, dia berkata:
Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedangkan mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan ya'qub. Tidaklah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. (QS. Yusuf: 37-38)
Wahai manusia jauhilah thagut dan majelis-majelisnya, Bara-lah kepadanya dan kufurlah terhadapnya selama dalam
keadaan itu!!
"Inilah kebenaran yang nyata dan cahaya yang terang lagi jelas, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. 16:36)
"Hai kedua penghuni penjara manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (QS. Yusuf: 39-40)
Jauhilah ia, wahai manusia, bara-lah terhadap penganutnya dan kesyirikkannya, sebelum terlambat dan sebelum datang suatu hari di mana bara terhadap mereka itu menjadi angan2 kalian yang paling besar, akan tetapi semua itu sudah terlambat, yang juga pada hari itu tidak akan bermanfaat penyesalan atau keluhan!!!
"Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:` Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. `Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka."(QS. 2:167)
Ya allah, bukankah telah kusampaikan...? Ya Allah saksikanlah...
Ya allah, bukankah telah kusampaikan...? Ya Allah saksikanlah...
Ya allah, bukankah telah kusampaikan...? Ya Allah saksikanlah...
dikutip dari buku AGAMA DEMOKRASI"pilih islam atau demokrasi?"
semoga bermanfaat...^^

Wednesday, May 25, 2011

Part 2: Pendahuluan

……………. Sampel keislaman yang dikehendaki oleh Allah SWT sebagai mana dinyatakan di atas adalah Islamnya alam semesta. Jadi kita harus ber-Islam sebagaimana Islamnya alam semesta. Tetapi bagaimana alam semesta ber-Islam?
Mari kita perhatikan ayat berikut:
” Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang, yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapayang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakanya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.
(Qs. Al-Hajj : 18)
Islamnya alam semesta ternyata bersujud mengabdi kepada Allah. Artinya, mereka tunduk patuh berjalan pada garis ketentuan Allah SWT. Mereka semuanya melakukan ibadah, melakukan sholat dan tasbih sebagaimana yang dilakukan oleh manusia, tetapi hanya Allah-lah yang lebih mengetahui tata cara tasbih dan sholatnya.
” Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”.
(Qs. An-Nuur : 41)
Seluruh makhluk di alam ini, dari matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang-binatang, burung-burung dan lain-lain, semuanya tunduk, sujud, ber-Islam kepada Allah SWT. Dalam ber-Islam, seluruh makhluk yang ada di semesta ini memiliki orbit (jalan) yang mesti dilaluinya. Dalam bersujud (ber-Islam) kepada Allah, matahari, beredar pada orbitnya dan tidak pernah keluar dari orbit itu walau sedikit. Demikian juga bulan, bumi dan bintang-bintang yang ada di semesta ini, semuanya beredar pada orbitnya tanpa pernah keluar dari garisnya walaupun sedikit. Matahari, bulan dan bintang-bintang tidak pernah ingkar dari garis ini. Matahari tidak pernah keluar dari orbitnya lalu beredar pada orbit bintang lain. Demikian juga bumi tidak pernah keluar dari orbitnya lalu berjalan di orbit bintang lain. Inilah jalan keislaman yang dikehendaki oleh Allah, ketundukan pada orbit yang telah ditetapkan baginya.
”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.
(Qs. Yasin : 40)
Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, juga diwajibkan oleh Allah berislam (sujud) bersama sujunya makhluk-makhluk lainnya. Bila alam semesta dalam bersujud memiliki orbit untuk membuktikan keislamannya dan untuk menyampakikannya kepada Allah, bagaimana dengan manusia, apakah ia harus memiliki dan melalui garis orbit juga? Pasti! Kalau dalam ber-Islam kepada Allah mekhluk lain memiliki garis edar (jalan) yang mesti dilaluinya. Rotasi kehidupan manusia adalah berangkat untuk kembali menuju Allah SWT.
”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (dari Allah dan akan kembali kepada Allah)”.
Kalau tujuan perjalanan hidup manusia adalah menuju Allah, maka adakah sebarang jalan (orbit) yang akan bisa menyampaikannya kepada Allah? Tentu tidak! Tentu hanya jalan yang terkait dengan Allah, yang menuju Allah, yang akan menyampaikannya kepada Allah. Manusia tidak akan pernah sampai kepada Allah kalau ia tidak memiliki dan menempuh jalan yang menghantarkannya kepada Allah.
Untuk kepentingan ibadah, ber-Islam dan bersujud secara benar, Allah SWT telah memberikan satu jalan (orbit) yang mesti dilalui oleh manusia, yaitu sabilillah. Kalu manusia tidak melewati garis ini dalam ber-Islam, sesunggunya ia telah berada pada orbit yang salah. Berada pada orbit yang salah berarti keluar dari jalur keislaman. Dan keluar dari jalur keislaman berarti bukan seorang muslim. Jadi, keislaman yang dikehendaki oleh Allah dengan pertanyaanya di muka adalah keislaman yang berada pada jalan (orbit) yang benar, yaitu sirotol mustaqim. Fahal antum muslimun?
Perhatikan ayat berikut:
”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.
(Qs. Al-An’am : 153)
Ayat ini telah dijelaskan oleh rasulullah SAW dengan sangat gamblang dalam bentuk garis sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan Jabir r.a:
”Kami duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau membuat garis lurus di depannya, lalu berkata: ”Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat dua garis di kanan dan dua gafis di kiri lalu berkata: ”Ini adalah jalan setan”. Kemudian beliau meletakan tangannya di garis tengah lalu membacakan ayat berikut: ” ”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.
(”Musnad ahmad” (14739); ”Sunan Ibnu Majah”
Secara garis lurus, Allah telah menyediakan satu jalan (orbit) bagi menusia untuk ber-Islam menuju Allah. Jalan itu adalah Nabi dan Rasulnya. Karenanya, manusia tidak akan pernah sampai kepada kataatan kepada Allah SWT kecuali melalui jalan ini, karena tidak ada jalan lain yang diciptakan oleh Allah sebagai jalan ber-Islam menuju kepada-Nya.
Kerasulan sebagai orbit manusia satu-satunya menuju Allah, telah secara terus menerus dimunculkan oleh Allah dengan dikirimnya para nabi dan rasul secara sambung menyambung, sepanjang masa. Dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad SAW. Inilah jalan itu, inilah jalan Islam, inilah jalan yang mesti dilalui oleh manusia dalam bersujud kepada Allah SWT. Tidak ada jalan diluar jalan Nabi dan Rasul.
”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.
(Qs. An-Nisa : 80)
Semua nabi telah menegaskan hakekat jalan ini. Nabi Nuh as telah menegaskan jalan ini kepada kaumnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an:
”Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.
(Asy-Syu’ara : 107-108)
” Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.
(Asy-Syu’ara : 125-126)
Tetapi kenabian dan kerasulan telah ditutup Allah dengan diutusnya nabi Muhammad SAW, dengan firmannya:
”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu. Tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
(Qs. Al-Ahzab : 40)

Yang menjadi masalah adalah, apakah dengan berakhirnya kenabian ini berarti terputus pula orbit bagi manusia untuk ber-Islam menuju Allah?


Tidak! Allah menyambung jalan itu denga khilafah, sehingga dengan adanya khiafah jalan menuju Allah tetap terbentang, dan manusia tetap dapat beribadah kepada Allah, manusia tetap bisa bersujud kepada Allah bersama sujudnya semesta alam pada orbit yang benar. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:
”Adalah Banu Israil kepemimpinan mereka selalu dipegang oleh nabi-nabi. Setiap meninggal seorang Nabi maka Nabi itu digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tak ada lagi Nabi sesudahku, yang ada hanya para khalifah yang banyak jumlahnya. Para sahabat bertanya: ”Apakah yang engkau suruh kami kerjakan?. Nabi menjawab: ”Sempurnakanlah bai’at yang telah engkau berikan kepada yang pertama. Kemusian yang datang sesudahnya. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada mereka tentang apa yang Allah suruh kepada mereka”.
(HR. Bukhari, Muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
”Sesunggunya aku memerintahkan kepadamu dengan lima perkara sebagaimana Allah memerintakan kepadaku, yaitu: berjama’ah, mendenga, taat, hijran dan jihad fi sabilillah. Karena sensunggunya siapa yang keluar dari jama’ah barang sejengkal, maka sungguh telah lepas ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (bertaubat) dan barang siapa yang berseru dengan seruan jahiliyah, maka ia bertekuk lutut dalam neraka jahanam. Sahabat bertanya: ”Sekalipun dia puasa dan shalat, ya Rasulullah?”. Jawab Nabi SAW: ”Sekalipun dia puasa dan shalat dan sekalipun dia mengaku muslim. Maka serulah orang-orang Islam dengan nama mereka yaitu Aa-Muslimuun, Al Muslimuun, hamba-hamba Allah Azza wa jalla”.
(”Sunan At-Turmudzi” (2790); ”Musnad Ahmad” (16542, 17132, 21835)
Jama’ah adalah esensi khilafah, orbit ber-Islam satu-satunya yang terbentang menuju Allah. Dalam sunnah Rasulullah di atas ditegaskan: ” Sekalipun shalat, sekalipun puasa, bahkan sekalipun mengaku muslim”, tetapi tidak berorbitkan dengan orbit jama’ah adalah sia-sia. Tetapi kini kebanyakan manusia telah keluar dari orbit ini, mereka ber-Islam bukan dengan orbit Islam, mereka ber-Islam tetapi melalui orbit lain. Kalau demikian apakah mereka dapat dikatakan sebagai muslim?

Bersambung,,,,


Disalin dari buku :JALAN ISLAM " Transformasi Akidah Dalam Kehidupan"
Penulis:  Anshary Ismail

Part 1: Pendahuluan

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan Para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah Kami menyerahkan diri.”
(Qs. Ali Imran : 84)
Menakjubkan! Ini yang dapat saya katakana ketika menyaksikan berbagai parade demonstrasi penolakan terhadap berbagai usulan pelaksanaan norma-norma keislaman yang akhir-akhir ini marak disiarkan melalui media masa, baik cetak maupun elektronik.
”Saya orang muslim tetapi saya tidak fanatik”.
” Saya seorang muslim, tetapi saya menolak RUU APP”.
” Saya seorang muslim, tetapi saya menolak syari’ah Islam dilaksanakan karena akan terjadi anarkis, disintegrasi bangsa dan seterusnya”.
Saya katakan menakjubkan karena penolakan ini dilakukan oleh orang-orang yang nota bene menyatakan diri sebagai muslim yang bersyahadah ” Laa ilaaha ilallah, Muhammad Rasulullah”. Bahkan dilakukan oleh para kiai dan intelektualny. Saya katakan menakjubkan, karena, bagaimana mungkin orang-orang yang menyatakan diri sebagai pemeluk Islam tetapi menolak dengan sekeras-kerasnya pelaksanaan norma-norma agamanya. Bagaimana mungkin orang-orang yang menyatakan diri sebagai seorang muslim menghujat dengan sekeras-kerasnya nilai-nilai agamanya. Ini adalah hal yang menakjubkan! Saya katakan menakjubkan karena ini fenomena baru, keberanian baru dari generasi muslim dalam menentang azab Allah yang teramat pedih, yang tidak pernah dilakukan oleh generasi muslim sepanjang sejarahnya. Dari mana keberanian itu muncul? Kenapa mereka tidak mau berendah dibawah ’ kursi Allah’, mencontoh generasi terdahulu yang telah dengan ta’dzim memenuhi panggilan dengan mengatakan:
”Sami’na wa atho’na” (Kami mendengar dan kami patuh)’. (Qs. An Nuur : 51)
Sepanjang informasi Al-Qur’an, sikap penolakan ini adalah warisan dua guru utama dalam pembangkangan, yaitu iblis laknatullah dan Yahudi yang dimurkai Allah SWT.
Tantang sejarah pembangkangan iblis, Al-Qur’an menerangkan:
”Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.
Sedangkan sejarah pembangkangan yahudi, Al-Qur’an menerangkan:
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat[74] perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).[74] Perbuatan jahat yang mereka kerjakan ialah menyembah anak sapi, membunuh nabi-nabi dan melanggar janji”.
Itulah sejarah pembangkangan.
Yang kemudian menjadi pernyataan kita adalah kenapa sikap pembangkangan kepada Allah dan Rasul-Nya itu merasuk kedalam diri orang-orang muslim? Apakah generasi ini telah berguru kepada mereka tentenang pembangkangan?
Kemudian kita boleh berfikir, bagaimana sekiranya keislaman model demikian itu kita hadapkan kepada Rasulullah, Abu Bakar atau Umar bin Khattab?
Dikisahkan: “Dua orang lelaki yang sedang bermasalah datang menemui Nabi SAW, lalu belia memutuskan tidak bersalah untuk pihak yang benar diatas pihak yang salah. Pihak yang diputuskan bersalah tidak mau menerima dan berkata kepadanya: “Saya tidak terima!”. Kemudian yang satunya berkata: “Lalu apa maumu?”. Ia menjawab:” Kita pergi kepada Abu Bakar Ash-Shidiq!”. Merekapun pergi. Orang yang diberi keputusan tidak bersalah berkata kepada Abu Bakar.” Kami mencari keadilan kepada Nabi SAW lalu aku diberi keputusan tidak bersalah”. Abu Bakar lalu berkata kepadanya:” Kamu berdua harus menerima apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah SAW”. Akan tetapi yang satunya tidak mau menerima. Keduanya kemudian menemui Umar bin Khattab, lalu orang yang diberi putusan tidak bersalah berkata: “ Kami telah mencari keadilan kepada Nabi SAW lalu aku diberi keputusan tidak bersalah tetapi yang satunya tidak mau menerima”. Mendengar permasalahan ini lalu Umar bertanya kepadanya dan dijawab benar adanya. Umar kemudian masuk dan pergi lagi dengan membawa pedang terhunus di tangannya. Lalu orang yang tidak mau menerima putusan Rasulullah SAW tersebut ditebas lehernya. Maka turunlah ayat:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”.
Kemudian dalam Sirah Nabawiyah diterangkan: Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Madinah beliau menyeru kepada seuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah, tetapi di Mekah ada sebagia kaum muslimin yang karena berbagai alasan tidak memenuhi seruan Rasulullah tersebut, antara lain: Harits bin Zama’ah, Abu Qais bi fakih, Abu Qais bin Walid, Ali bin Ummayah dan ‘Ash bin Munibah. Ketika pecah perang Badar mereka dimanfa’atkan oleh pihak kafir mekah untuk memerangi pasukan Islam. Oleh pasukan Islam mereka semua dihadapi sebagai musuh, semuanya mati terbunuh, mereka mati dalam kesesatan dan menjadi penghuni neraka jahanam.
Dalam kasus ini Allah SWT berfirman,
”Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (Qs. An-Nisa : 97)
Dalam sunnah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar telah memutuskan untuk memerangi orang-orang yang membangkang tidak mau membayar zakat, setelah wafat Rasulullah SAW. Abu Hurairah r,a berkata: ”Tatkala Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar r a terangkat sebagai khalifah, beberapa kelompok masyarakat Arab kembali menjadi kafir. Umar r.a bertanya kepada Abu Bakar: ” Bagaimana kamu akan memerangi manusia sedang Rasulullah SAW bersabda:
امرت أن أقاتل الناس حتي يقولوا لا اله الا الله فمن قال لا اله الا الله فقـد عصم مني ماله ونفسه الا بحـقه وحسابه علي الله.“ Aku diperintahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Dua kalimah Syahadah. Barang siapa yang mengucapkannya berarti dia dan hartanya terpelihara kecuali apa yang dibenarkan oleh syari’ah dan perhitungannya terserah kepada allah SWT”.
Abu Bakar menjawab: “Demi Allah aku akan memerangi mereka yang membedakan antara kewajiban shalat dengan kewajiban zakat, karena zakat merupakan kewajiban terhadap harta. Demi Allah, andaikan mereka menahan seutas tali yang bias diberikan kepada Rasulullah SAW saya akan memerangi mereka karena menahan tali itu”. Berkata Umar: “ Demi Allah, tidak lain keterangan Abu Bakar melainkan saya mengerti bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang, maka saya baru mengerti bahwa itulah perkara yang benar”. (HR. Bukhari Musli)
Ketiga kasus tersebut diatas adalah menyangkut orang-orang yang menyandang predikat muslim, tetapi kenapa dalam kasus pertam, sahabat Umar bin Khatab memenggal lehernya? Bukankah ia tahu bahwa sahabat tersebut adalah seorang muslim, hanya saja ia tidak menerima keputusan Rasulullah SAW? Kenapa ia harus dipenggal lehernya, bukankah darah seorang muslim tidak halal kecuali atas tiga hal, yaitu karena membunuh, karena zina muhshon dan karena murtad dari agamanya?
Dalam kasus kedua, mengapa orang-orang muslim yang bergabung dengan pasukan musuh itu (bahkan dalam keadaan dipaksa) diperangi dan diperlakukan sebagai musuh oleh pasukan Islam, bahkan akhirnya mereka semuanya terbunuh oleh pasukan Islam? Bukankah mereka seorang muslim, hanya mereka tidak mau memenuhi perintah Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara sesama muslim di Madinah? Apakah mereka itu telah murtad atau telah keluar dari keislamannya?
Kemudian dalam kasus ketiga, mengapa Khalifah Abu Bakar menghalalkan darahnya dengan memerangi mereka. Bukankah mereka adalah orang-orang yang bersyahadat dan mengerjakan shalat, hanya saja mereka enggan membayar zakat? Padahal seperti penjelasan Umar bin Khatab dihadapan Abu Bakar, dengan landasan sabda Rasulallah SAW bahwa orang bersyahadat “laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah” terpelihara jiwa, harta dan kehormatannya?
Ketiga kasus diatas adalah pelajaran bagi umat Islam bahwa pernyataan keislaman seseorang tidak secara otomatis menempatkan dirinya pada maqom seorang muslim. Predikat kemusliman yang disandang seseorang yang ternyata menuntut persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi. Apabila persyaratan itu dipenuhi maka muslimlah ia, tetapi manakala ia keluar dari persyaratan itu, maka demi hokum gugurlah keislamannya.
Allah SWT berfirman:
“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.
(Qs. Al-Baqarah : 8)

Allah SWT berfirman:
“ Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”.
(Qs. Al-Anbiya’ : 108)

Yang perlu mendapat perhatian kita adalah keislaman macam paa yang dikehendaki oleh Allah SWT sehingga kita layak menyandang predikat muslim? Bukankah KTP kita Islam? Kita juga sudah melaksanakan shalat dan bahkan haji? Kemudian apalagi? Kenapa Allah masih mempertanyakan keislaman kita?
Penegasan ini sesunggunya hal yang sangat wajar di tengah derasnya arus perguulan yang sangat serius antara materialisme dan iman, di mana materialisme sendang di atas angina mendominasi seluruh sisi kehidupan, dimana kebanyakan ‘mata hati’ manusia tersilap oleh gemerlap semua materialisme ang memang sangat menggoda. Penegasan ini sesunggunya sangat perlu dimana banyaknya pernyataan dusta dan palsu tentang keimanan dan keislaman yang dilakukan oleh sebagian besar manusia.
Yang perlu kia lakukan hanyalah membuktikan diri bahwa kita ini seorang muslim. Muslim yang dikehendaki oleh Allah, bukan muslim yang kita kira sendiri atau kita kehendaki sendiri. Karena kita adalah hamba Allah bukan hamba diri sendiri. Karena ita mengharapkan ridha Allah bukan ridha diri sendiri. Tetapi bagaimana ber-Islam dengan cara Allah?
Perhatikan ayat berikut ini:
”Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.
Makna hakiki dari Islam adalah tunduk dan patuh. Yang dimaksud tunduk dan patuh di sini adalah tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah.
Bersambung ………..

Disalin dari buku :JALAN ISLAM " Transformasi Akidah Dalam Kehidupan"
Penulis:  Anshary Ismail

Tuesday, May 24, 2011

Isu Cuci Otak, Cuci Otak kotor(OMES,PIKTOR)

Belakangan ini kita kembali diramaikan oleh berita isu cuci otak disamping berita teror bom yang kembali marak. Tuduhan pun langsung diarahkan kepada Islam dan para pejuangnya. Sungguh kerikil perjuangan yang mesti dihadapi sebagai dinamika perjuangan, bukannya surut untuk mengendorkan ghiroh jihad, apalagi menjadi apatis, Naudzubillah. Karena kalau sampai apatis, Yahudi-lah yang menang, karena memang itu-lah tujuan mereka merekayasa drama isu cuci otak dan teror bom, agar para kaum mujahid muda apatis dan hidup hedonis/hubuddunya wa karohiyatul maut. Sehingga dominasi dan eksistensi mereka tetap berlangsung di belahan bumi ini tanpa ada yang mengganggu gugat.
CUCI OTAK
Publik, terutama media yang memberikan istilah ini seolah-olah tidak memahami tata bahasa atau EYD. Istilah cuci otak lebih cenderung bersifat tendensius untuk menyudutkan pihak tertentu, khususnya Al-Islam yang benar-benar mengajarkan Tauhidullloh. Secara kata sendiri OTAK adalah raga/jasmani yang bisa terlihat, alat semata. Jadi tidak tepat kalau diistilahi OTAK. Kalau cuci otak, maka yang harus dibuka adalah batok kepala oleh ahli bedah, kemudian gumpalan otaknya dicuci entah pakai apa dicucinya, detergen, sabun, sampo atau apa???. Mungkin yang mereka maksud adalah CUCI AKAL PIKIRAN. Dan istilah CUCI-pun kurang tepat, karena CUCI yang dimaksud mereka berkonotasi negatif. Padahal CUCI adalah suatu pekerjaan yang baik, mencuci berarti membersihkan benda, pakaian, atau badan dari yang kotor-kotor. Ini yang perlu diralat oleh ahli bahasa, kecuali kalau tetap mempertahankan istilah ini untuk menyudutkan dengan menyebar fitnah terhadap Islam. Maka kita terima, karena mungkin mereka merasa selama ini OTAK mereka KOTOR dengan OMES (Otak MESum) atau PIKTOR (PIKiran KOTor), sehingga perlu diCUCI dengan Dakwah Tauhidulloh agar kembali FITROH sebagaimana ketika ia lahir.
Isu Cuci Otak berkedok NII
Lalu bagaimana dengan fakta dan kesaksian korban dan mantan yang menyatakan bahwa para pelaku “Cuci Otak” ini adalah anggota/warga NII, dengan ajaran2 menyimpang (memvonis ortu kafir, meninggalkan ortu, bai’at tutup mata,dikuras uangnya untuk infaq dsb). Sehingga citra NII dari mulai Orde Lama, Orde Baru hingga era ini semakin negatif dan terpuruk. Di Jaman Orde Lama dibawah Rezim Soekarno dituduh Gerombolan, padahal kita tahu para gerombolan yang merampok dan membakar rumah-rumah penduduk adalah gerombolan komunis yang menyusup dan berpura-pura sebagai pejuang Darul Islam. Karena mereka iri penduduk mendukung perjuangan NII dengan mengirim bahan makanan ke gunung-gunung untuk para pejuang Hizbulloh/TII. Sehingga eksistensi NII ini cukup bertahan lama dari tahun 49 sampai 60-an. Maka lumbung-lumbung padi penduduk pendukung  sebagai bekal perjuangan tentara Hizbulloh dibakar. Dan langsung mereka menuduh para pelakunya adalah TII sendiri, ironis.
Lalu di jaman Orde baru dibawah rezim Soeharto, para hizbullohpasca SM.Kartosuwiryo dihukum mati turun gunung dan berbaur dengan masyarakat. Maka mereka (kaki tangan kepercayaan Soeharto, yaitu Ali Moertopo dan LB.Moerdani) melakukan penyusupan untuk kemudian mendompleng Komandemen Wilayah IX yang kala itu dibawah koordinasi Adah Jaelani hingga akhirnya berdiri Ponpes Super megah Al-Zaitun di Haur Geulis Indramayu dibawah komando Abu Toto atau Syech Panji Gumilang, yang mengajarkan para “Da’inya” untuk merekrut Mad’u/objek Dakwah dengan iming-iming berdirinya kembali NII sebagai Madinah untuk kemudian meninggalkan NKRI sebagai Mekah, jadilah Hijrah Mekah-Madinah. Sementara pusat “Madinah” sendiri yakni Al-Zaitun jadi kebanggaan tokoh-tokoh Orde Baru yang notabene dianggap musuh dan kafir oleh para pengikut NII Al-Zaitun ini, super ironis. Dimana tiap-tiap Milad/HUT Al-zaitun, tokoh-tokoh semacam Harmoko, Wiranto, Habibie, Try Sutrisno, Hendropriyono berbondong-bondong menghadiri hajatan tahunan ini. Termasuk salah satu gedung dinamai Gedung Soeharto. Dari sini saja kita sudah bisa membaca, siapa dibalik maraknya kembali isu aliran sesat saat ini. Dan paling mirisnya pembangunan gedung ini diantaranya didanai oleh para “da’i” nya yang selain merekrut juga mengumpulkan infaq sebanyak-banyaknya dengan cara apapun, mencuri, menipu dan berbohong kepada ortu. Cara-cara keji itulah yang selalu dituduhkan kepada Negara Islam yang diproklamasikan oleh SM.Kartosuwiryo tanggal 7 Agustus 1949. Proklamasi yang sudah jauh-jauh hari sudah dipersiapkan dan disosialisasikan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Dimana saat sosialisasi itu hadir Pemuda marhaen, yang kemudian “menculik” Soekarno Hatta ke Rengas Dengklok agar secepatnya memproklamasikan RI supaya tidak kalah start dengan para Hizbulloh. Namun usia Proklamasi 1945 ini hanya bertahan sampai tahun 1949, karena terus diganggu oleh Agresi Militer Belanda.. Dan akhirnya kalah di meja perundingan Renville, dimana wilayah RI tinggal Jogjakarta saja, bahkan Soekarno Hatta sendiri ditawan di Digul. Dalam vacum of power inilah Negara Islam diproklamasikan di Jawa Barat setelah melakukan berbagai peperangan dengan Militer Belanda yang ingin mendirikan negara Boneka nya, Negara Pasundan.
Pembaca budiman !!! Marilah cuci otak kita dari prasangka/suudzon tentang isu-isu murahan dan gosip-gosip klasik, sehingga akal dan jiwa kita benar-benar suci bersih agar bisa menerima kebenaran dengan lapang dada. “Janganlah kamu mengikuti kebanyakan manusia (yang menebar isu), karena omonganmereka hanyalah prasangka belaka dan kebanyakan mereka berbuat bohong….(Qs 6 : 116)


Sumber: http://balakecrakan.wordpress.com/

Thursday, March 10, 2011

Untukmu Ukhtiku,,, "I Miss U"

Shalehah,,:)
Saudariku jadilah seorang mujahidah yang menjadikan suri tauladan
bagi setiap yang melihatnya.Ingat cita-cita seorang mujahid/mujahidah adalah "HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID".
Dunia hanya senda gurau, dunia hanya panggung sandiwara.Untuk itu saudariku raihlah syurgaNYa dengan sungguh2. Jalankan semua kewajiban maka ALLah akan menolong, tapi ketika kewajiban ditinggalkan jangan harap pertolongan Allah di dapatkan..
Saudariku, jangan lupa islam harus dijaga!

Tahun lalu ku tak merasa apa-apa..
Bulan lalu aku masih tenang-tenang saja,,
Minggu-minggu lalu aku masih bisa tertawa,,
Hari lalu aku masih bisa bersama,,
tapi kini kesedihan menghampiriku, kesedihan datang padaku, tawa canda akan hilang dari hidupku.
Kebersamaan akan jauh dari hidupku.
Sahabatku, saudariku, temanku thank's for you.
Jaga dirimuu baik-baik..
INGAT MENTAL MUJAHIDAH ADALAH MENTAL BAJA, TAKAN TERGOYAH OLEH APAPUN.
ALLAHUAKHBAR..
Ingat pertahankan godhul bashar, jangan ghibah,
ulah culang-cileung bilih titajong hate,ulah tengok kiri, tengok kanan  bilih kapereupeunan ku pameget..
istiqomah selalu ya!!..

Saudarimu..T_T

Artikelku(kemenangan yang tertunda),,:D

TEKNOLOGI ADALAH BUDAYA MANUSIA
Mia Ira Antika
(Pendidikan Ilmu Komputer)
Abstrak. Apakah budaya? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sering ditanyakan dan dicari jawabnya. Seolah-olah jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah ada, atau mungkin ketika ditemukan jawabannya oleh seseorang, maka yang didefinisikan itu (budaya) lantas berubah. Oleh karenanya orang tak pernah sampai pada keputusan final yang disepakati oleh semua orang. Apalagi budaya dilihat dari kacamata berlainan tergantung yang melihatnya. Alhasil konsep budaya berbeda-beda tergantung siapa yang mendefinisikan konsep tersebut. Apa hubungannya antara budaya dan teknologi, untuk sebagian orang mengira bahwa budaya dengan teknologi adalah sesuatu yang tak bisa disatukan atau dipadukan, seolah dua sisi hal yang bebeda dalam kehidupan ini. Namun pada kenyataannya pada era globalisasi ini, dengan persaingan yang begitu ketatnya bisakah kita menunjukan budaya suatu daerah/ bangsa tanpa teknologi? Jawabnya ya tentu bisa. Tapi bisakah mempertahan kan budaya  suatu bangsa tanpa teknologi? Nah perlu di pikirkan kembali, Zaman sekarang ini sudah tidak heran lagi kalau teknologi merupakkan suatu budaya manusia.
Kata Kunci: Budaya, teknologi, manusia
Pendahuluan
Sebelum kita membahas peranan teknologi dalam budaya, kita pahami dulu apa itu budaya dan teknologi. Saya akan paparkan salah satu definisi budaya menurut Herskovits, yang mendefinisikan budaya sebagai hasil karya manusia sebagai bagian dari lingkungannya (culture is the human-made part of the environment). Artinya segala sesuatu yang merupakan hasil dari perbuatan manusia, baik hasil itu abstrak maupun nyata, asalkan merupakan proses untuk terlibat dalam lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial, maka bisa disebut budaya.
Kemudian definisi teknologi  menurut Caster (Capra,2004:107) “Teknologi adalah sebagai kumpulan alat, aturan, dan prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara yang memungkinkan pengulangan”. Sardar (1987,161) “Teknologi adalah sarana pemecahan masalah mendasar dari setiap peraaban”.
  
Pembahasan
Bicara mengenai teknologi merupakan hal yang amat menarik untuk dibahas. Teknologi, dari masa ke masa semakin berkembang bahkan makin cepat dan pesat. Teknologi berkembang seiiring dengan semakin pandainya manusia. Manusia yang semakin berpikir kompleks, juga semakin menuntut segala sesuatunya menjadi instan. Dari situlah teknologi dibutuhkan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Teknologi terbukti menghasilkan efisiensi, efektifitas, dan hasil yang cepat didapat.
Dewasa ini kita memang sudah tidak bisa berlepas lagi dengan sesuatu yang berbau teknologi, mulai dari kita bangun tidur sampai tidur kembali. Bagaikan sesuatu yang sudah biasa dan tidak sadar bahwa segala aktivitas dan pendukung hidup kita sehari-hari merupakan suatu teknologi. Sehingga budaya kita sehari-haripun tidak terlepas dari  teknologi. Budaya merupakan suatu aset yang begitu berharga dari sebuah bangsa. Karena fungsi budaya salah satunya merupakan sebuah ciri khas atau identitas suatu bangsa. Apa yang terjadi jika budaya tanpa teknologi? Coba bayangkan andai budaya yang kita miliki tidak sedikitpun menggunakan teknologi, bisakah fungsi budaya itu terimplementasikan? tidak. Mengapa? Karena teknologi adalah budaya manusia.
Jika kita memahami bahwa teknologi adalah sesuatu yang berkaitan dengan sebuah alat canggih yang modern, saya katakan itu salah karena alat itu hanya merupakan bagian dari sebuah tekologi. Pendukung kerja/aktivitas atau apapun itu yang bisa mempermudah, mengefektifkan dan mengefisienkan kerja/aktivitas kita, itu bisa disebut teknologi.
 Kegiatan manusia tidak akan terlepas dari kegiatan membuat dan menggunakan. Kegiatan manusia itu merupakan bentuk dari teknologi itu sendiri. Kegiatan membuat dan menggunakan pasti tidak akan lepas dari ilmu membuat dan ilmu menggunakan. Ilmu alam sebuah teknologi ini merupakan kumpulan dari pengetahuan yang didapat manusia dari berbagai sumber. Jadi memahami teknologi tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan alam dan rekayasa. Ilmu pengetahuan alam adalah input bagi proses ilmu rekayasa sedangkan teknologi adalah hasil proses rekayasa.
Jelaslah bahwa teknologi itu sudah merupakan kebudayaan/ kebiasaan manusia. Dengan meningkatnya teknologi maka meningkat pula kebudayaan manusia. Teknologi mempunyai peranan yang sangat besar dalam kemajuan dan kelestarian suatu kebudayaan manusia. Dengan begitu untuk meningkatakan kebudayaan dan mertahankan kebudayaan terutama kebudayaan bangsa maka terus tingkatkanlah teknologi tersebut, dalam artian teknologi yang mampu memajukan dan mempertahankan budaya tersebut. Hingga nantiya mampu menteknologikan budaya dan membudayakan teknologi.

Penutup
            Tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti memiliki kelemahan. Kelemahan yang ada pada diri manusia itu kemudian diminimalisir dengan adanya teknologi agar kelemahan yang dimiliki manusiapun menjadi sedikit berkurang. Tetapi barang-barang buatan tidak hanya terbatas pada kelemahan manusia saja tetapi sesuatu yang tadinya belum terpikirkan. Budaya manusia yang ada dalam lingkungan kita sehari-hari tak telepas dari sebuah teknologi.

Pustaka rujukan
Achmanto, Mendatu. (2007). Definisi-definisi budaya”. [Online].Tersedia://http:smartpsikologi . blogspot.com/2007/08/apakah-budaya.html. [06 Februari 2011].
Dedi, Aji.(2010).Definisi teknologi”.[Online]. Tersedia: http://ajidedim.wordpress.com/teknolo gi-islami /technology/. [06 Februari 2011].