link menu

Thursday, April 2, 2015

Radikal Yes…, Anarkis No….!

Belakangan ini publik kembali diramaikan oleh dua kata ini, Radikalisme dan Anarkisme. Dalam hal ini Media massa mempublikkan dua kata ini seolah satu rumpun, satu aksi yang satu sama lain saling ada keterkaitan dan keduanya berkonotasi negatif. Padahal beda, yang satu positif dan harus dimiliki oleh orang yang memiliki cita-cita atau ideologi, yaitu Radikal, yang satunya lagi bersifat negatif yaitu Anarkis, sikap dekstruktif dan cenderung memaksakan kehendak dengan cara kekerasan sekalipun.


Sehingga sebagian umat islam terhasut propaganda media massa, dengan mengembar-gemborkan apa yang dinamakan deRadikalisasi. Padahal Radikal secara kata adalah “mengakar”, dan ini harus dimiliki oleh muslim yang berAqidah. Karena tanpa AKAR, batang pohon tak akan tumbuh, begitu-pun buah tak akan jadi-jadi selamanya. Walaupun ada hanyalah pohon-pohonan atau buah mainan yang terbuat dari plastik. Akarnya-pun terbalik, jadi hiasan belaka. Dan inilah dampak dari aksi deRadikalisasi, umat islam hanya menjadikan Syari’at sebagai hiasan belaka, berhenti cukup pada kegiatan-kegiatan ritual dan seremonial belaka. Tanpa memberikan manfaat pada kehidupan nyata/IPOLEKSOSBUDHANKAM.

Jadi Radikal/Akar adalah Aqidah yang harus dimiliki tiap individu muslim, karena Akar yang baik dan menghujam ke dalam tanah akan menumbuhkan pohon (syari’at) yang menjulang tinggi ke langit dan kokoh serta menghasilkan buah (Akhlaq) yang akan memberikan manfaat bagi manusia (rahmatan lil alamin). Muslim yang Radikal akan bersikap/bersyari’at dengan akhlaq yang terbaik. Ia menyadari bahwa Islam adalah agama kedamaian dan kesejukan tanpa paksaan di dalam nya (Qs 2:256), apalagi untuk menyampaikan pesan-pesannya dengan cara kekerasan/anarkis. Hal itu tidak disyari’atkan di dalam Islam. Karena di dalam Islam, Qital atau peperangan itu hanya media untuk mempertahankan Izzah/kemuliaan ketika Islam diperangi agar Dakwah tidak terganggu. Kemudian dalam peperangan-pun islam terikat oleh aturan-aturan agar tidak melampaui batas. Tidak menghancurkan bangunan, menebang pohon, membunuh hewan ternak serta membunuh orang-orang sipil (Qs 3 : 190-193).

Jadi amat tidak relevan jika aksi-aksi anarkis seperti Bom bunuh diri dan sejenisnya dialamatkan kepada muslim yang Radikal. Muslim yang radikal tahu aturan dan Syari’at, ia tidak akan merusak fisik dan citra islam itu sendiri. Ia akan memberikan manfaat bagi umat manusia sebagaimana sifatnya Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Wallohu ‘alam bishowab




 
Sumber:https://balakecrakan.wordpress.com
Share on :

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar, terimakasih telah berkunjung :)